Bertaubat sebelum Haji dan Umroh Dari Segala Maksiat

Category : HAJI
Bertaubat sebelum Haji dan Umroh Dari Segala Maksiatby Arminareka Perdanaon.Bertaubat sebelum Haji dan Umroh Dari Segala MaksiatSebelum melaksanakan Haji dan Umroh, sebaiknya kita berwasiat kepada keluarga dan handai-taulannya dengan wasiat taqwa kepada Allah, yakni, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Agar setelah haji dan umroh kita bisa menjadi haji yang mabrur, dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Hendaknya ia menuliskan hitam  di atas putih utang piutangnya dan mencantumkan  pula saksi […]
Sebelum melaksanakan Haji dan Umroh, sebaiknya kita berwasiat kepada keluarga dan handai-taulannya dengan wasiat taqwa kepada Allah, yakni, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Agar setelah haji dan umroh kita bisa menjadi haji yang mabrur, dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Hendaknya ia menuliskan hitam  di atas putih utang piutangnya dan mencantumkan  pula saksi dalam tulisan itu. Wajib baginya segera bertaubat yang sebenar-benarnya dari segala dosa., berdasarkan firman Allah:
“Dan bertaubatlah    kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, agar supaya kamu beruntung.” (An-Nur:31)
Hakikat taubat ialah: berlepas total meninggalkan dosa, seraya menyesali dosa yang telah lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Jika ia pernah melakukan perbuata-perbuatan dzalim (tindak kesalahan) terhadap orang lain berupa: menghilangkan nyawa seorang atau mencederai fisiknya, atau mengambil hartanya tanpa ridhanya, atau menjatuhkan kehormatannya hendaklah ia selesaikan semua urusannya dengan mereka atau ia meminta kerelaan mereka untuk mema’afkan sebelum kepergiannya, berdasarkan hadits shahih Nabi SAW, bahwa Beliau bersabda:

Bertaubat sebelum Haji dan Umroh Dari Segala Maksiat

“Barang siapa memiliki tanggungan yang harus dibayarnya atau perilaku salah yang dilakukannya kepada saudarannya, baik berupa harta yang diambilnya tanpa ridhanya, atau harga diri saudaranya yang ia jatuhkan, maka, pada hari ini juga, ia hendaknya meminta kerelaan saudara-saudaranya itu untuk memaafkannya sebelum datang hari kiamat yang di hari itu tidak ada dinar maupun dirham (sebagai penebus). Jika ia mempunyai amal shaleh, maka akan di ambil dari amalnya itu atas tindak buruknya kepada saudaranya itu. Tapi jika ia tidak memiliki amal baik, aka diambilah keburukan-keburukan temannya itu lalu dipikulnya ke atas pundaknya ”
Tujuan Haji
Assalamu’alaikum wr wb
Dalam waktu dekat ini saya akan memenuhi kewajiban ibadah haji saya, tetapi terasa menjadi beban rasanya jika perjalanan saya ke tanah suci sekedar untuk memenuhi kewajiban saja. Untuk memantapkan ibadah saya agar mendapatkan kemabruran, mohon dijelaskan tujuan syariat ibadah haji dalam islam.
Reza Abdul Jabbar-Bekasi
Wa’alaikumsalam
“ Dan, seluruh manusia untuk mengerjakan haji , niscaya mereka akan datang kepadamu berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka yang datang dari segenap penjuru.” {QS AL-HAJJ [22]:77}.
Al-Thahir ibn Asyur dalam tafsirnya, Al-tahrir wa al-tanwir, ketika menafsirkan ayat di atas menjelaskan maqashid syari’ah al-hajj (tujuan syariat haji) bahwa pada awalnya makna kosakata haji adalah menyengajakan diri mengunjungi Baitullah (Ka’bah). Dalam perkembangannya, makna ini berarti medatangi Masjidil Haram untuk  menunaikan manasik haji dan diantara tujuannya adalah menimba dan mengokohkan akidah dalam bentuk musyahadah (menyaksikan secara langsung) bangunan yang didirikan untuk dijadikan simbol tauhidullah (menesakan penghambaan hanya untuk Allah) yang pada akhirnya akan memantapkan keyakinan tauhid orang yang menyaksikannya secara langsung. Karena, tabiat dasar logika manusia hanya dapat meyakini sesuatu yang abstrak jika sudah diwakili oleh simbol yang dapat terindra.
Pada awalnya, Ibrahim as sempat ragu dengan kemampuannya menerima amanah untuk menyeru  seluruh manusia dari seantero penjuru dunia  karena seakan mustahil tanpa perangkat komunikasi dan pemasaran yang memadai tetapi ia harus menyeru manusia semua untuk menuju datang ke Baitulah yang  ia tinggikan dengan tangannya dan putranya, Ismail as. Tetapi, setelah Allah menegaskan bahwa tugas Ibrahim as hanya menyeru dan tugas Allah menyampaikan pesan seruannya ke seluruh hati orang yang Allah kehendaki untuk mendengarnya maka Ibrahim tanpa ragu menyambut perintah dan amanah Allah. Saat ini kita dapat kelangsungan seruan yang seakan tidak pernah berhenti menggema di dalam hati orang-orang beriman yang telah dikehendaki Allah untuk mengunjungi Bait-Nya.
Dalam talbiah, tersirat pula maksud dan tujuan perjalanan haji yang dapat memperkokoh ibadah kita. Labbaik allahumma labbaik, innal hamdah wan ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak…. (kami sambut seruan-Mu ya Allah, kami sambut seruan-Mu bahwa tiada sekutu bagi-Mu dalam sesembahan, sungguh segala puja dan puji, seluruh nikmat adalah milik-Mu).
Ibadah haji juga merupakan undangan langit dari Yang Maha Pengasih agar para tamu-Nya (dhuyufur rahman) dapat menyaksikan dan merasakan rahmat-Nya, kemudian berbagi rahmat Allah dengan penuh cinta kepada yang lain sambil terus mengagungkan dan menyebut nama-Nya.
Allah Ta’ala berfirman, “Agara mereka menyeksikan berbagi manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir (QS al-Hajj [22]:28).
Salah satu faktor terpenting untuk dapat menjumpai Allah di rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya yang akan mendapatkan ampunan dan syurga-Nya adalah datang dengan tanpa kotoran lahir dan batin., dalam keadaan telah menunaikan janji-janji kepada-Nya, serta melakukan tawaf.
Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah). {QS Al-Hajj [22]:29}.
Di antara syariat tujuan haji lainnya adalah menyempurnakan keislaman diri. Sebagai rukun islam yang kelima, ibadah haji adalah penyempurna keislaman seseorang setelah benar syahadat, shalat, zakat, dan puasanya. Ibadah haji akan kehilangan makna jika dilakukan oleh orang yang cacat syahadat, rukun islam, serta rukun imannya.
Wallahu a’lam bish shawab. Oleh : Ustaz Bachtiar Nasir

Related Posts

Leave a Reply